Just another WordPress.com site

Archive for Januari 24, 2012

Pendidikan di Kota Bandung

Ada ratusan sekolah negeri dan swasta di Bandung. Seperti di kota lain di Indonesia, Bandung memiliki beberapa negara didanai dan dikelola sekolah tinggi dan SMP, yang disebut Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMP Negeri) dan Sekolah Tinggi Negara (SMA Negeri), masing-masing. Setidaknya enam belas universitas-tiga yang milik negara dan universitas-45 sekolah-sekolah profesional yang tersebar di seluruh kota. Pendidikan dari ilmu sosial, teknologi sampai pendidikan pariwisata dapat ditemukan di salah satu universitas.

Di antara beberapa universitas yang berlokasi di Bandung, Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Katolik Parahyangan, Universitas Kristen Maranatha, Universitas Pendidikan Indonesia (Universitas Pendidikan Indonesia), Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati ( Sunan Gunung Djati Universitas Islam Negeri), Institut Teknologi Telkom (Telkom Institute of Technology), Politeknik Negeri Bandung (Politeknik Negeri Bandung) dan Politeknik Manufaktur Bandung (Bandung Industri Politeknik) dianggap salah satu universitas terbaik di bidang masing-masing khusus di Indonesia. Didirikan tahun 1920, Institut Teknologi Bandung tertua dan paling bergengsi teknis universitas di Indonesia. Universitas Pendidikan Indonesia (dahulu IKIP Bandung, didirikan pada 1954) adalah salah satu lembaga pendidikan tinggi pertama yang didirikan setelah kemerdekaan Indonesia dan saat ini menjadi pendidikan universitas terkemuka di negeri ini. Universitas Padjadjaran (didirikan tahun 1956) dianggap sebagai salah satu universitas terbaik di negeri ini di bidang medis, hukum, komunikasi, dan studi ekonomi.

Universitas Padjadjaran

Institut Teknologi Bandung

Universitas Islam Bandung

Universitas Katolik Parahyangan

Universitas Kristen Maranatha

Politeknik Negeri Bandung

Institut Teknologi Telkom

Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

 

Universitas Pendidikan Indonesia

Di utara Bandung, Observatorium Bosscha merupakan observatorium satu-satunya di Indonesia. Pembangunan observatorium dimulai pada tahun 1923 dan selesai pada tahun 1928. Pada tahun 1922, publikasi internasional pertama dari Observatorium Bosscha diterbitkan dan pada tahun 1959, observatorium itu dimasukkan sebagai bagian dari departemen astronomi di Institut Teknologi Bandung (Institut Teknologi Bandung).

Bosscha-Observatory Lembang, Bandung

Iklan

Sister Cities

Bandung adalah kota yang memiliki hubungan saudara dengan sejumlah kota di seluruh dunia paling banyak di Indonesia, diantaranya:

Braunschweig, Jerman
Bari, Italia
Texas, Amerika Serikat
Hamamatsu, Jepang
Liuzhou, China
Yingkau, China
Cebu, Filipina
Fort Worth, Amerika Serikat
Klagenfurt, Austria
Seremban, Malaysia
Topolcianky, Republik Slovakia
Miami, Amerika Serikat
Suwon, Korea Selatan
Dll


Arsitektur Kota

Bandung terkenal untuk saham besar arsitektur kolonial Belanda; terutama gaya Art Deco arsitektur tropis. Henri Maclaine Pont-antara arsitek-arsitek Belanda yang pertama yang menyadari betapa pentingnya untuk menggabungkan masing-masing gaya arsitektur dengan budaya masyarakat setempat. Dia menekankan bahwa arsitektur modern harus berevolusi dari sejarah lokal dan unsur-unsur asli. [23] Pada tahun 1920, Pont direncanakan dan dirancang bangunan untuk universitas teknis pertama di Hindia Belanda, Technische Hogeschool te Bandung (sekarang-hari Institut Teknologi Bandung) , setelah itu ia diangkat sebagai profesor dalam arsitektur di universitas. Sebuah gaya atap mencolok lokal Jawa terasa terlihat di atas ruang upacara kampus ‘, tertanam dalam karya seninya.

Desain arsitektur oleh Albert Aalbers pada tahun 1939 adalah salah satu contoh yang paling signifikan dari gaya Art Deco yang terkenal Bandung Pada tahun yang sama, lain arsitek Belanda, J Gerber, dirancang Gouverments Bedrijven (Perusahaan Pemerintah) sejalan dengan rencana pemerintah kolonial untuk memindahkan ibukota dari Batavia ke Bandung. Bangunan ini adalah contoh dari campuran harmonis antara gaya Barat dan Timur arsitektur, khususnya gaya Renaisans Italia struktur lengkungan di sayap barat dan pagoda-seperti Thailand struktur di bagian tengah. [Kutipan diperlukan] Bangunan ini dikenal sebagai Gedung Sate , dinamai struktur sate dibedakan kecil berbentuk di atap, dan digunakan sebagai kantor pusat pemerintah provinsi Jawa Barat dan rumah Jawa Barat perwakilan.

 
Campuran arsitektur modern dan asli diikuti oleh beberapa arsitek Belanda yang telah membentuk landmark kota. Pada tahun 1930-an, Bandung dikenal juga sebagai kota laboratorium arsitektur karena arsitek Belanda banyak membuat beberapa eksperimen dengan desain arsitektur baru. Albert Aalbers menambahkan gaya arsitektur ekspresionis dengan Art Deco dengan merancang bank DENIS (1936) dan  direnovasi Savoy Homann Hotel (1939). C.P.W. Schoemaker adalah salah satu arsitek terkenal yang sangat ditambahkan unsur asli dalam karyanya, termasuk Villa Isola (1932), Hotel Preanger (1929), militer daerah kantor pusat (1918), Gedung Merdeka (1921) dan ITB Gedung Rektorat (1925). [23]


Sungai Citarum

Citarum adalah sungai terpanjang dan terbesar di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Sungai dengan nilai sejarah, ekonomi, dan sosial yang penting ini sejak 2007 menjadi salah satu dari sungai dengan tingkat ketercemaran tertinggi di dunia. Jutaan orang tergantung langsung hidupnya dari sungai ini, sekitar 500 pabrik berdiri di sekitar alirannya, tiga waduk PLTA dibangun di alirannya, dan penggundulan hutan berlangsung pesat di wilayah hulu.

Geografi
Panjang aliran sungai ini sekitar 300 km. Secara tradisional, hulu Citarum dianggap berawal dari lereng Gunung Wayang, di tenggara Kota Bandung, di wilayah Desa Cibeureum, Kertasari, Bandung. Ada tujuh mata air yang menyatu di suatu danau buatan bernama Situ Cisanti di wilayah Kabupaten Bandung. Namun demikian, berbagai anak sungai dari kabupaten bertetangga juga menyatukan alirannya ke Citarum, seperti Ci Kapundung dan Ci Beet. Aliran kemudian mengarah ke arah barat, melewati Majalaya dan Dayeuhkolot, lalu berbelok ke arah barat laut dan utara, menjadi perbatasan Kabupaten Cianjur dengan Kabupaten Bandung Barat, melewati Kabupaten Purwakarta, dan terakhir Kabupaten Karawang (batas dengan Kabupaten Bekasi). Sungai ini bermuara di Ujung Karawang.


Berikut ini adalah sebagian dari anak sungai yang mengalir ke Citarum:

•    Ci Beet
•    Ci Kao
•    Ci Somang
•    Ci Kundul
•    Ci Balagung
•    Ci Sokan
•    Ci Meta
•    Ci Minyak
•    Ci Lanang
•    Ci Jere
•    Ci Haur
•    Ci Mahi
•    Ci Beureum
•    Ci Widey
•    Ci Sangkuy
•    Ci Kapundung
•    Ci Durian
•    Ci Pamokolan
•    Ci Tarik
•    Ci Keruh
•    Ci Rasea
Citarum dalam sejarah
Dalam perjalanan sejarah Sunda, Citarum erat kaitannya dengan Kerajaan Taruma, kerajaan yang menurut catatan-catatan Tionghoa dan sejumlah prasasti pernah ada pada abad ke-4 sampai abad ke-7. Komplek bangunan kuna dari abad ke-4, seperti di Situs Batujaya dan Situs Cibuaya menunjukkan pernah adanya aktivitas permukiman di bagian hilir. Sisa-sisa kebudayaan pra-Hindu dari abad ke-1 Masehi juga ditemukan di bagian hilir sungai ini.
Sejak runtuhnya Taruma, Citarum menjadi batas alami Kerajaan Sunda dan Galuh, dua kerajaan kembar pecahan dari Taruma.
Citarum juga disebut dalam Naskah Bujangga Manik, suatu kisah perjalanan yang kaya dengan nama-nama geografi di Pulau Jawa dari abad ke-15.
Pemanfaatan

Jembatan kereta api yang melintasi Citarum, dekat Stasiun Kedunggedeh.
Sejak lama Citarum dapat dialayari oleh perahu kecil. Penduduk di sekitarnya memanfaatkan sumber daya perikanan dan menggunakannya untuk keperluan hidup sehari-hari. Belum pernah ada laporan terbuka mengenai jenis-jenis biota yang menghuni sungai ini.
Karena banyaknya debit air yang dialirkan oleh sungai ini, maka dibangun tiga waduk (danau buatan) sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan juga untuk irigasi persawahan di sungai ini:


1.    PLTA Saguling di bagian paling hulu
2.    PLTA Cirata
3.    PLTA Ir. H. Djuanda atau lebih dikenal sebagai PLTA Jatiluhur

 

 

 


Air dari Citarum dimanfaatkan sebagai pasokan air minum untuk sebagian penduduk Jakarta. Irigasi di wilayah Subang, Karawang, dan Bekasi juga dipasok dari aliran sungai ini. Pengaturannya dilakukan sejak Waduk Jatiluhur.

 

 

 

 

 

 
Pencemaran
   Keadaan lingkungan sekitar Citarum telah banyak berubah sejak paruh kedua dasawarsa 1980-an. Industrialisasi yang pesat di kawasan sekitar sungai ini sejak akhir 1980-an telah menyebabkan menumpuknya sampah buangan pabrik-pabrik di sungai ini.
Setiap musim hujan di sepanjang Citarum di wilayah Bandung Selatan selalu dilanda banjir. Setelah Banjir besar yang melanda daerah tersebut pada tahun 1986, pemerintah membuat proyek normalisasi sungai Citarum dengan mengeruk dan melebarkan sungai bahkan meluruskan alur sungai yang berkelok. Tetapi hasil proyek itu sia sia karena sejak itu tidak ada sosialisasi terhadap masyarakat sekitar sehingga sungai tetap menjadi tempat pembuangan sampah bahkan limbah pabrik pun mengalir ke sungai Citarum. Sehingga sekarang keadaan sungai menjadi sempit dan dangkal, sampah dimana mana, warna airpun hitam pekat. akhirnya sampai kini setiap tahun di musim hujan wilayah Bandung Selatan selalu dilanda banjir, bahkan setiap tahun ketinggian banjir selalu bertambah. Apabila anda berkunjung ke Bandung selatan akan terlihat jelas keadaan Sungai Citarum saat ini.